Bhinneka Tungggal Ika

 Unity in Diversity

 

 

 

National Songs

 

National  Anthem
Indonesia Raya

 

Indonesia Pusaka

 

Satu Nusa
Satu Bangsa

 

 

Founding Fathers

August 17 1945

Sukarno

M Hatta

 

 

Presidency

 

President

Vice President

 

 

 

 

Indonesia Presidents

Sukarno

Suharto

 Habibie

A R Wahid

Megawati

 

 

Country Profile

Profile

History

Republic

Country Map

General

Archipelago

Population

Special

 

 

Political Profile

Political

Government

Sukarno Yrs

Suharto Yrs

Pol Parties

Military

MPR

Profiles

International

 

Economic Profile

Economy

Finance

Trade

Business

Investment

Industry

Oil & Mining

Ec Trends

 

 

Cultural Profile

Arts & Culture

Education

Health

News & Media

Sports

Tourism

Links

Readings

 

Special Topics

Aceh

Bali

E Timor

Kalimantan

Moluccas

Sulawesi

West Irian

Suharto

CIA

Gestapu

Ethnicity

Lippo Gate

Dev. Aid

 

 

 

GATEWAY TO INDONESIA

 Information & Research Resources

 


 

  Focus on current affairs

National and International Media Links

INDONESIA MONITOR

Google

Home

 History

Presidents

Special Topics

Country Profile

Political Profile

Economic Profile

Cultural Profile

 Maps

 Books

Site Map

Contact Us

 

 
 

 

 

 
 
CULTURAL & SOCIAL PROFILE

Arts & Culture

Media

Education

Medialinks

Health

Links

Sports

Readings

Tourism

Books


SPORTS

SWIMMING


editor indonesia-pusaka

Profile

Political

Economy

Cultural

Special Topics

Sukarno years

Suharto Years

A R Wahid

Military

International

Media

Readings

 


MF Siregar dan Kejayaan Renang Indonesia
Minggu, 3 Oktober 2010 | 22:03 WIB


MF Siregar

JAKARTA, Kompas.com - Mangombar Ferdinand Siregar telah menghadap penciptanya, Minggu (3/10). Banyak yang mengenal beliau sebagai teknokrat olahraga, arsitek keberhasilan medali emas olimpiade Barcelona 1992 dan orang dalam kepengurusan.
kepengurusan sekarang ini ada fasilitas tapi tidak ada dedikasi, jaman gue dulu kebalikkannya. Ada dedikasi tapi nggak ada fasilitas

Namun dalam perjalanan hidupnya selama 82 tahun, Siregar telah menapakan tangan dinginnya di banyak cabang olahraga, termasuk renang. Dalam tahap keterpurukan olahraga renang dibandingkan pada masa lalu biarlah kita mengenang tangan dingin Siregar di sejarah renang Indonesia. Berikut kebagai pencinta olahraga saat usia belasan, saya mengetahui (belum mengenal) MF Siregar sebagai otak keberhasilan perenang-perenang Indonesia yang menguasai SEA Games Kuala Lumpur tahun 1977. Program yang dibuatnya telah menggemparkan dengan membawa pulang 33 medali emas, menyapu bersih semua emas di nomor-nomor putra. Para Pembina renang Filipina terkejut. Singapura, Malaysia, dan Thailand tak bisa lagi berucap.

Filipina yang di pesta olahraga Asia Tenggara saat masih bernama SEAP Games sebelumnya menguasai kolam renang, langsung menjiplak program renang yang diterapkan MF Siregar sebagai kepala pelatih renang nasional. Ketika itu, MF Siregar tak tanggung-tanggung menyeleksi perenang-perenang usia muda (13-15) untuk dikirim ke AS khusus dipersiapkan untuk jangka panjang.

Setahun kemudian, Filipina pun melakukan program yang sama. Keberhasilan Kristiono Sumono, Gerald HP Item, John D Item, Lukman Niode cs membuat MF Siregar bersama ketua umum PRSI saat itu, Dadang Suprayogi, langsung diceburkan di kolam renang Malaysia, dan begitu naik dari kolam MF Siregar langsung berujar, “darah saya adalah darah renang.”

PRSI di tangan MF Siregar adalah PRSI dalam masa keemasan. Bersama adiknya, alm. Othman Siregar, kemudian ia meneruskan kejayaan-kejayaan renang nasional. Sampai akhirnya, banyak orangtua perenang beranggapan kalau anaknya mau berhasil sebaiknya ditangani oleh MF Siregar, atau setidaknya sang adik (yang sebenarnya tak pernah akur ini).

Dua belas tahun kemudian, setelah menjadi wartawan olah raga, akhirnya saya bertemu juga dengan MF Siregar untuk pertama kalinya di Kolam Renang Ancol. Saat itu, MF Siregar sudah dikenal sebagai teknokrat olahraga dan menjadi asisten Menpora. Namun, baginya renang memang segalanya sehingga ia pun tetap hadir menyaksikan lomba renang tingkat pemula di kolam renang itu.

“Oom MF,” begitu saya selalu menyapanya, saat itu bercerita tentang perkembangan renang di negara-negara sosialis bahwa bakat renang seorang anak sudah bisa dilihat sejak bayi. Saat itu masih tahun 1989, namun Oom MF bisa memperlihatkan data dan foto-foto bagaimana pembinaan dini para perenang di Jerman Timur maupun Uni Soviet. “Kita sebenarnya bisa juga melakukan seperti itu, nanti gue kasih buku tentang step-step pelatihan dini itu,”katanya. Benar, kemudian Oom MF memberikan foto kopian dari buku itu.

Suatu hari saat saya berkunjung ke rumahnya di Kemanggisan, ia memanggil saya agar mendekat,” Tyas…kamu tahu,” katanya serius. “Hanya sedikit saja orang yang begitu mencintai renang di Indonesia ini. Tapi, dari sedikit orang itu rata-rata mereka adalah orang yang berdedikasi,” tuturnya. “Gue terus terang sering kangen pengen ngelatih lagi di kolam renang, karena itu gue masih sering dateng ke klub tempat Liza melatih di Tirta Taruna saat subuh.”

Walau tak pernah mengakui soal ketidaksamaan visinya dengan adiknya, Othman Siregar, yang saat itu duduk sebagai pelatih kepala di PRSI, namun Oom MF sangat menghargai adiknya. Sang adik yang telah lebih dulu meninggal dunia karena serangan jantung (dan kabarnya dikarenakan seringnya ia selalu berdebar menunggui anak-anak asuhnya berlomba di perlombaan-perlombaan besar), memang justru dikenal lebih keras dan pendiam.

Sampai suatu hari Oom MF membisikkan sesuatu pada saya, saat kepengurusan PB PRSI dipegang oleh Ginanjar Kartasasmita. “Tyas sini….enggak bisa renang didiamkan terus seperti ini. Ada yang salah,” katanya. Saya langsung mendekatkan telinga saya ke mulutnya,”kepengurusan sekarang ini ada fasilitas tapi tidak ada dedikasi, jaman gue dulu kebalikkannya. Ada dedikasi tapi nggak ada fasilitas,” tuturnya lirih. “Namun dalam olahraga dedikasi adalah hal yang utama.”

Sebagai wartawan olahraga, saya merasa dituntut untuk ikut meningkatkan perkembangan prestasi renang nasional, karena itu tanpa sungkan-sungkan saya sampaikan pernyataanSiregar ini pada Pak Ginandjar, tapi tanpa menyebut nama beliau. Saat itu, saya kaget juga pak Ginandjar langsung terdiam. “Begini saja Tyas,” kata Pak Ginanjar. “Kalau begitu kamu bantu saya, untuk memantau jika ada yang salah.” Memang kemudian, saat itu saya yang masih menjadi wartawan harian, selalu diberi kesempatan melihat para perenang Indonesia jika berlomba di luar negeri. Ini menunjukkan bahwa ucapan Siregar tentang dedikasi memang benar adanya. Buktinya, kalimat itu begitu mengena di hati Pak Ginandjar. Dalam olahraga, dedikasi memang hal yang utama.

Setelah Siregar meninggalkan dunia renang dan kemudian terlibat lebih jauh dari dunia bulu tangkis, saya tidak pernah bertemu dan berinteraksi dengan beliau. Terakhir kali saya bertemu saat sama-sama menghadiri pemakaman anak seorang wartawan olah raga di Jakarta. Saat itu beliau tidak lagi berbicara soal renang tetapi berbicara tentang dunia olah raga secara lebih luas. Saat itu saya berpikir,"Ah oom MF ini memang terlalu besar untuk hanya berkutat di satu bidang."

Kepergian Oom MF jelas merupakan kehilangan besar buat dunia olahraga Indonesia, tidak terkecuali renang. Berbeda dengan 20 tahun yang lalu, dunia renang bukan lagi cabang yang berkelimpahan fasilitas. Bibit mungkin saja masih berkelimpahan, namun kita kekurangan fasilitas dan dana untuk memantau, membina dan menjadikannya perenang andal. Meski begitu, kita harus tetap berharap, semoga saja renang tidak kehilangan orang yang berdedikasi seperti Oom MF. “Selamat jalan Oom MF…….”

(Tyas Soemarto, wartawan, penggiat olahraga renang di Jakarta)enangan seorang yang pernah mengenal dekat.

 

 

 
 
 
 

 

 

 
 

 

 
 

 

 

 

 

 
 

 

  INDONESIA MONITOR

 for Country Information

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MF Siregar dies at 82
The Jakarta Post, akarta | Sun, 10/03/2010

Indonesian badminton coach and key figure Mangombar Ferdinand Siregar passed away on Sunday after suffering an illness. He was 82.

Siregar has dedicated all his life to sports particularly badminton.

One of his best achievements was helping Susi Susanti to win a gold medal in the 1992 Barcelona Olympics, which was also the first Indonesia's gold in the biggest sports event in the world.

He also received various sports awards at national and international levels

 

 

MF Siregar.

JAKARTA, KOMPAS.com — Mantan Sekjen Pengurus Besar Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia atau PB PBSI, MF Siregar, meninggal dunia dalam usia 82 tahun di Jakarta, Minggu (3/10/2010) pukul 14.00.

MF Siregar mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Abdi Waluyo, Menteng, Jakarta Pusat, setelah dirawat selama 34 hari akibat terserang stroke.

"Benar, bapak meninggal dunia tadi siang pukul 14.00 di RS Abdi Waluyo," ungkap putri keempat almarhum, Ria Siregar, ketika dikonfirmasi, Minggu.
Ria mengungkapkan, almarhum segera dibawa pulang ke rumah duka di Jalan Kemanggisan Ilir Nomor 15, Slipi, Jakarta Selatan, untuk disemayamkan.

Sosok yang memiliki nama lengkap Mangombar Ferdinand Siregar kelahiran 11 November 1928 ini rencananya akan dikebumikan di TPU Petamburan, Jakarta Pusat. Namun, waktu pemakaman belum ditetapkan pihak keluarga.
"Kami masih belum bisa memastikan kapan beliau akan dimakamkan sebab masih menunggu beberapa anggota famili yang masih berada di luar kota," ujarnya.

Sebagai informasi, MF Siregar dilarikan ke RS Abdi Waluyo pada 30 Agustus lalu karena terserang stroke. Sejak saat itu, kondisinya tidak stabil.
Almarhum meninggalkan lima anak beserta sembilan cucu. Istrinya lebih dulu meninggal dunia beberapa tahun lalu.

Hampir sepanjang hidupnya MF Siregar mengabdikan dirinya di dunia olahraga dan ia dipandang sebagai seorang teknokrat olahraga yang telah banyak memberikan sumbangsih bagi kemajuan olah raga berprestasi di Tanah Air.

 

 

 

 

 

Tokoh olahraga MF Siregar memberikan buku kepada mantan Ketua Umum PB PBSI Try Sutrisno (kiri)
saat peluncuran buku M.F. Siregar Matahari Olahraga Indonesia di Jakarta, Selasa (11/11).


PELUNCURAN BUKU

Pemikiran MF Siregar Didokumentasikan
Rabu, 12 November 2008 | 03:00 WIB

Jakarta, Kompas - Mangombar Ferdinand Siregar, sosok yang dikenal dengan sapaan Ompung, merayakan ulang tahun ke-80, Selasa (11/11), dengan acara istimewa.

Bertepatan dengan ulang tahunnya, diluncurkan buku biografi berjudul M.F. Siregar Matahari Olahraga Indonesia.

Siregar, yang lahir di Jakarta, 11 November 1928, layak diibaratkan sebagai matahari di dunia olahraga Indonesia.

”Alam tanpa matahari, gelap. Olahraga Indonesia tanpa MF Siregar tidak akan seterang sekarang,” ujar Try Sutrisno, Ketua Umum PB PBSI periode 1989-1993, dalam sambutannya setelah menerima buku dari Siregar.

Selain Try Sutrisno, hadir pula Ketua Umum PB PBSI 1997-2001 Subagyo HS, Ketua Umum KONI/KOI Rita Subowo, serta mantan Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Akbar Tanjung. Sejumlah mantan atlet bulu tangkis nasional, seperti Tan Joe Hok, Christian Hadinata, Lius Pongoh, Susy Susanti, Alan Budikusuma, dan Ricky Subagdja, juga hadir.

Buku ini ditulis dua wartawan, yaitu Brigitta Isworo Laksmi (Kompas) dan Primastuti Handayani (The Jakarta Post). Menurut mereka, Siregar adalah sosok yang pemikiran-pemikirannya bagi olahraga Indonesia sayang untuk dilupakan.

”Melalui buku ini, kami berharap pemikiran-pemikiran Ompung tidak dilupakan dan lahir ’Ompung’ yang baru,” kata Yani, sapaan Handayani.

Brigitta berpendapat, Siregar adalah sosok yang komplet. Selain banyak memberikan sumbangan pemikiran, Siregar juga adalah orang lapangan karena pernah menjadi atlet.

Hal itu dituangkan dalam bab yang bercerita tentang hobi renang Siregar sejak kecil hingga menjadi atlet sepak bola di SMA Adam Bachtiar. Tahun 1948 Siregar menjadi orang Indonesia pertama yang menyelenggarakan perlombaan renang di Kolam Renang Manggarai dan merangkap sebagai peserta.

Sebagai teknokrat olahraga, Siregar menimba ilmu di Akademi Pendidikan Djasmani Bandung dan Master Pendidikan Jasmani dari Springfield College, Massachusetts, AS. (was/iya)

 

Opung Harus Mau Dituntun
Selasa, 11 November 2008 | 17:18 WIB

AKARTA, SELASA - Mantan wakil presiden RI, Try Sutrisno memberi saran penting buat tokoh olahraga MF Siregar. "Di usia 80 tahun, Pak Siregar, jangan pernah menolak kalau orang mau membantu menuntun kita."

Try Sutrisno yang juga merupakan ketua Umum PB PBSI 1989-1993 menyarankan ini saat memberi sambutan dalam peluncuran buku biografi MF Siregar di Jakarta, Selasa (11/11). Buku berjudul,"MF Siregar, Matahari Olahraga Indonesia" setebal 298 halaman ini berisi riwayat hidup Mangombar Ferdinand Siregar, tokoh yang berada di belakang kejayaan olahraga Indonesia sejak 1960-an. Dari renang hingga bulutangkis. Dari SEA Games hingga Olimpiade.

Menurut Try Sutrisno, keberhasilan Indonesia meraih medali emas Olimpiade Barcelona 1992 memang merupakan kerja kolektif. Namun hal itu dapat diwujudkan juga karena tangan dingin MF Siregar yang biasa dipanggil Opung tersebut. "Menjelang olimpiade Barcelona 1992, saya diberitahu Pak Akbar Tandjung yang saat itu menjabat sebagai Menpora. Menurunya, Presiden (Soeharto) meminta bulutangkis menyumbang satu medali emas di olimpiade," kata Try, 74 tahun.

Try yang saat itu menjabat sebagai ketua umum PB PBSI memanggil Siregar yang saat itu menjabat sebagai ketua bidang pembinaan. Menurut Try, orang dengan pengalaman internasional dan nasional segudang seperti Siregar tentunya dapat mewujudkan impian tersebut. "Tentunya dengan kerja keras dan disiplin," katanya.

Mantan Pangab di era 1980-an ini menyebut semua pihak saat itu melakukan kewajibannya dengan disiplin tinggi. "Saat itu sebagai ketua umum saya menegaskan yang berhak berbicara hanyalah ketua umum dan sekjen. Yang lain tidak boleh. Apalagi pemian, tugasnya hanya berlatih, betanding dan menang."

Siregar saat itu menerima tugas dengan penuh tanggungjawab. Ia menagawasi ketat persiapan setiap pemain sejak Susy Susanti, Alan Budi Kusuma, Hermawan Susanto, Ardy B. Wiranata hingga ganda Eddy Hartono/Gunawan dengan seksama. Termasuk memperhatikan asupan vitamin mau pun pengaturan peak pertandingan. Ketika hampir seluruh rakyat menangis karena Indonesia gagal meraih Piala Thomas di Kuala Lumpur 1992, Siergar justru senang secara diam-diam. "kalau kita menang mungkin persiapan ke Olimpiade beberapa bulan kemudian justru akan terganggu," katanya.

Hasilnya, Indonesia meraih lima medali di cabang bulutangkis. Dua medali emas dari Susy Susanti dan Alan Budikusuma. "Bahkan di tunggal putera, ada tiga bendera merah putih yang dikerek yaitu dari Alan (Budikusuma), Ardy (Wiranata) dan Hermawan (Susanto)," kata Try.

Sayangnya Siregar tidak menyaksikan secara langsung kemenangan putera-puteri asuhannya itu. Sebulan sebelum Olimpiade, ia terkena serangan jantung. Sakit ini memaksanya harus menjalani operasi dan dokter melarangnya menyaksikan pertandingan secara langsung. Jadi saat Susy meraih emas pertama Indonesia di Olimpiade, Siregar mengetahuinya dari laporan pandangan mata anak asuhnya di Jakarta, Richard Mainaky.

Setelah belasan tahun berlalu, Try SUtrisno sekali lagi mengingatkan Siregar tentang perlunya memperhatikan kesehatan. "Di usia yang semakin senja, kadangkala tubuh kita ini sudah tidak bisa dengan sigap mengikuti perintah otak. Kalau sampai jatuh, akan fatal akibatnya. Jadi kalau ada orang mau menuntun atau menggandeng, itu bukan berarti kita sedang dikasihani."

Acara peluncuran buku MF Siregar di Wisma Pemuda, Jakarta ini menjadi semacam reuni para mantan anak didik Siregar. Tampak hadir mantyan pemain bulu tangkis seperti Tan Joe Hok, Alan dan Susy, Hermawan Susanto dan Sarwendah, Eddy Hartono, Christian Hadinata, Verawaty Fajrin, Elizabeth Latief, Ivana Lie. Juga mantan perenang anak didiknya seperti Lukman Niode dan John D. Item. Semantara para birokrat dan mantan birokrat olahraga yang datang antara lain para mantan ketua umum PBSI seperti Try Sutrisno, Subagyo HS serta ketua umum KONI Pusat, Rita Subowo.

 

 

 

Profile

Political

Economy

Cultural

Special Topics

Sukarno years

Suharto Years

A R Wahid

Military

International

Media

Readings